BENTENG TUNDAKAN
Tempat ini merupakan bukti sejarah perjuangan Pangeran Antasari di daerah Balangan, yaitu pada pertengahan abad XIX , saat “Perang Banjar” (Banjarmasinsche Krijgt) sedang berkecamuk. Yang disebutkan benteng tersebut ialah bekas-bekas pertahanan Pangeran Antasari di atas sebuah bukit yang strategis bernama “Gunung Batu Bubungan”.
Gunung ini berada di sebuah hutan, sekarang termasuk wilayah Kecamatan Awayan, letaknya kurang lebih 10 km jalan kaki dari Awayan. Menurut sebuah catatan dokumentasi Belanda berbunyi: “ Pada tanggal 24 September 1861 terjadi pertempuran di Benteng Tundakan, di Hulu Baruh Bahinu, watas Paringin. Dipertahankan oleh Pangeran Antasari, dibantu oleh Pangeran Miradipa dan Temenggung Macan Negara. (Temenggung Macan Negara adalah nama samaran dari Temenggung Jalil alias Adipati Anom Dinding Raja), kepala pemberontakan Banua Lima di Amuntai, yang ikut mendampingi Pangeran Antasari dalam pertempuran tersebut.
Persenjataan di Benteng Tundakan hanya 30 pucuk meriam lila dan beberapa pucuk bedil dan pamuras. Militer Belanda menyerang perbentengan tersebut dengan persenjataan lengkap berupa meriam. Meskipun demikian serangan militer itu dapat ditangkis dan dipukul mundur dengan kekalahan yang besar. Oleh pejuang rakyat dapat dirampas beberapa pucuk bedil dengan pelurunya, serta 120 orang “perantaian” (orang hukuman) dari pihak Belanda yang melarikan diri ke pihak Antasari. Demikian dokumentasi tersebut.
Dapat ditambahkan, bahwa di medan pertempuran inilah gugurnya Temenggung Macan Negara (alias Temenggung Jalil) dan mayat beliau dikuburkan di tepi sungai Kusi Langir, tak begitu jauh dari perbentengan.
Namun beberapa waktu kemudian, kuburan itu diketahui Belanda, mayatnya dibongkar dan tengkorak kepalanya dibawa dan disimpan di Museum Negeri Belanda, bersama-sama dengan temgkorak kepala Penghulu Rasyid (dari Pasar Arba Banua Lawas) dan tengkorak Demang Lehman dari Martapura.

ASAL USUL NAMA TENGGER DAN UPACARA KASADHA
Hampir setiap orang di Jawa Timur mengenal nama Tengger. Pegunungan Tengger sebuah tempat yang penduduknya tekun melakukan keyakinan agamanya serta hidup damai dan bergotong-royong.
Penduduk Tengger masih ada bertalian erat dengan penduduk Majapahit. Pada waktu pengaruh Islam mulai masuk di kerajaan Majapahit, ada sebagian penduduk yang kuat kepercayaannya terhadap agamanya, kemudian pindah tempat. Ada yang menetap di Bromo, ada yang ke Blambangan dan ada juga yang ke pulau Bali. Dari sinilah sejarah penduduk Tengger itu mulai diketahui orang. Mula-mula daerah itu tertutup rapat-rapat dari pengaruh luar sehingga tak seorang pun yang mengetahui bagaimana ragam penduduknya. Karena itu timbullah seribu satu macam dongeng dan cerita tentang asal-usul nama Tengger dan upacara Kasadha.
Prabu Brawijaya adalah nama gelar raja-raja pada kerajaan Majapahit. Baginda raja dianugerahi seorang puteri yang bernama Rara Anteng. Alangkah gembira hati Sang Prabu dan Permaisurinya. Belahan hatinya yang hanya seorang ini berparas elok, cantik tiada taranya. Tindak-tanduknya selembut hiasan nama yang diberikan kepadanya. Menjelang dewasa Rara Anteng berhubungan dengan seorang pemuda yang bernama Jaka Seger. Pemuda itu adalah seorang keturunan Brahmana. Tak lama kemudian dengan doa restu dari kedua belah pihak orang tuanya, keduanya menjadi sepasang suami isteri yang bebahagia.
Jaka Seger seorang yang tampan serta tinggi budinya, sedang Rara Anteng seorang yang berparas elok serta lembut hatinya. Kebahagian kedua suami isteri itu mulai berkurang ketika agama Islam mempengaruhi Majapahit. Penduduk sekitarnya pun demikian. Sebagian yang kuat keyakinannya berpindah ke daerah timur. Setelah melalui hutan dan bukit, sampailah mereka di sebuah gunung. Gunung itu adalah gunung berapi. Gunung besar itu melindungi mereka dari segala bahaya.
Mereka merasa aman dari hewan dan bahaya kedinginan. Mereka yang senasib itu telah bertekad untuk tetap tinggal disitu. Tempat tinggal Roro Anteng dan Jaka Seger kemudian dinamai Tengger (Teng = Rara Anteng, Ger = Jaka Seger).
Berpuluh-puluh tahun Jaka Seger memerintah dengan bijaksana, tenteram penuh gotong-royong, saling pengertian antara segenap rakyatnya. Hanyalah satu kekurangannya, bahwa beliau tidak dikaruniai anak seorang pun. Sedih hatinya memikirkan nasibnya. Atas kehendak keduanya serta dukungan rakyat Tengger, Baginda dan Permaisuri bersamadi di puncak gunung berapi itu.
Gunung berapai yang berpuluh-puluh tahun telah melindunginya dari mara bahaya, dianggap keramat oleh penduduk Tengger. Bersamaan dengan selesai masa samadinya, memancarlah dari kawah gunung berapi itu sinar merah keemasan. Maka bertambah yakinlah bahwa permintaan telah dikabulkan. Dengan hati gembira Baginda dan Permaisuri itu berjanji akan mempersembahkan putra bungsunya kelak ke dalam kawah gunung berapi.
Kebahagiaannya bertambah ketika lahir putra-putrinya. Baginda dan Permaisuri sudah semakin tua usianya, akan tetapi putranya selalu menghiburnya, sehingga lupalah Baginda dan Permaisuri akan janjinya. Janji yang dulu diucapkan dari lubuk hatinya.
Tetapi dibalik kebahagiaannya, gunung berapi itu mulai menderu berdentum. Seakan-akan mengingatkan janji Baginda dan Permaisuri. Semakin lama langit yang cerah berganti pekat, asap dari kawah mulai mengepul hitam. Barulah Baginda sadar akan janjinya yang terlupakan. Namun semuanya telah terlambat. Angin bertiup dengan kerasnya menghempas segalanya, pertanda gunung berapi murka. Keadaan sekitarnya menjadi kacau-balau, penduduk berlarian mengungsi menyelamatkan diri.
Baginda dan Permaisuri beserta semua putranya juga berlarian menuju ke balik gunung yang aman. Angin kencang serasa menghisapnya dari belakang. Baginda dan Permaisuri telah jatuh ke bawah dengan diikuti putranya. Hanya Kesuma, putra bungsunya yang tertinggal di puncak. Semakin dekat Kesuma ke dalam kawah yang menganga membara itu. Segenap mata penduduk memperhatikannya penuh keharuan, sampai Kesuma memasuki lubang yang kawah yang merah itu. Tak ada seorang pun yang dapat menolongnya, semuanya hanya menyaksikan dengan sedih dan terharu.
Tiba-tiba asap mulai berkurang, hempasan angin mulai hilang. Langit kembali cerah dan bening, bulan purnama pun memancar dengan terangnya, seakan-akan tidak pernah terjadi apa-apa sebelumnya. Dalam keheningan malam yang syahdu itu, melengkinglah suara ghaib. “Wahai Ayah dan Ibu serta Saudara-saudaraku. Aku berkorban demi keselamatan semua. Oleh karena itu, hidup rukun serta berbaktilah kepada-Nya. Permintaanku, kirimlah ke kawah ini sebagian hasil ladang serta ternakmu. Lakukanlah di saat terang bulan setiap tanggal 14 bulan Kasadha. “ (bulan Kasadha = bulan pertama bulan Jawa bulan Syura). Kepercayaan itu sampai sekarang ada, hingga kini di puncak Bromo tiap tahun pada bulan pertama tahun Jawa (Asyura) masih diadakan upacara KASDHA.

LOKSADO
Dulu, tersebutlah seorang pemuda. Ia tinggal di sebuah kampung, di ujung pegunungan Meratus. Orang kampung biasa memanggilnya Sa’ad. Konon, nama lengkap pemberian orang tuanya adalah Sa’ad Sado. Ia dikenal sebagai pemuda yang tampan rupawan dan berotak cerdas. Banyak keterampilan yang dimilikinya, namun yang sangat menonjol, tangannya sangat terampil dalam hal bertukang bangunan. Banyak rumah penduduk dibangun atas jasa keterampilannya itu. Tak heran juka banyak orang memujinya.
Kian hari kian banyak orang memuji Sa’ad Sado. Sayang, pujian demi pujian itu bukan membuatnya rendah hati, tapi malah menjadikannya besar kepala. Maka jadilah Sa’ad Sado pemuda yang tak suka menerima nasihat orang. Dia merasa dirinyalah yang paling pintar.
Suatu saat warga hendak membangun sebuah balai. Maka tentu saja warga meminta jasa Sa’ad Sado sebagai perancang sekaligus tukangnya. Balai merupakan sejenis rumah adat, yaitu rumah adat Suku Bukit atau juga dikenal sebagai Suku Dayak Meratus.
Pada hari yang telah disepakati, puluhan warga mulai turun bekerja di bawah pimpinan Sa’ad Sado. Semua bekerja beramai-ramai sesuai dengan kemampuan masing-masing. Ada yang pergi ke hutan mengumpulkan bahan atau meramu, ada pula yang sibuk menyiapkan lahan, dan lain-lain. Sedang Sa’ad Sado sudah mulai sibuk mengurusi tiang utama bangunan balai.
Dengan senang hati Sa’ad Sado mengerjakan pembuatan tiang yang bahannya berupa beberapa batang pohon meranti berukuran panjang dan besar. Tentu saja perbuatan ini dikerjakannya dengan apik dan hati-hati sekali, agar menghasilkan bentuk tiang yang indah dan mengundang decak kagum warganya. Dan itu berarti dirinya akan mendapat pujian lagi. Itulah yang diidamkannya.
Pekerjaan berat itu memerlukan waktu berminggu-minggu. Dengan sebilah belayung, pahat, dan palu, Sa’ad Sado mulai bekerja mengupas dan menghaluskan pohon meranti yang masih berupa kayu gelondong. Pekerjaan membuat tiang utama ini rupanya sangat menarik perhatian warga sekitar. Terutama kaum perempuan dan anak-anak. Mereka itu sangat senang dapat menonton kebolehan Sa’ad Sado berkarya seni bangunan. Maka terdengarlah riuh rendah celotehan dan komentar dari mulut mereka.
Ketika Sa’ad Sado sedang asyik mengupas kayu gelondongan itu, tiba-tiba terdengar suara dari salah seorang yang hadir dengan nada menggurui atau menasihati Sa’ad Sado. “ Itu sudah cukup, Sa’ad! Kalau dikupas terus, nanti tiang utama akan kekecilan. Itu berarti akan mengurangi kekuatannya!”
Sa’ad Sado tak menyahut. Ia terus saja bekerja memahat batang meranti, tanpa mempedulikan nasihat orang itu. Bahkan ketika nasihat itu diulang-ulang, ia tetap bergeming. Sa’ad Sado memang punya tabiat tak suka dinasihati.
Kekhawatiran warga kalau-kalau tiang utama itu tak dapat dimanfaatkan karena kekecilan, akhirnya menjadi kenyataan. Kayu-kayu gelondongan meranti yang tadinya berukuran sebesar tubuh orang dewasa, sekarang hanya tinggal seukuran pergelangan tangan, dan itu tentu tak layak dipakai sebagai tiang utama balai yang nantinya menjadi bangunan kebanggan semua warga. Semua war
Semua warga sangat kecewa atas ulah Sa’ad Sado kali ini. Mereka tak sabar, dan marah. Sebagai pernyataan tak senang pada Sa’ad Sado, setiap warga yang datang selalu mengentuti. Beratus-ratus orang yang datang ke tempat itu, telah berbuat sama pada Sa’ad Sado. Akhirnya tubuh Sa’ad Sado berbau busuk.
Sa’ad Sado sangat malu dan sedih sekali hatinya. Semula ia berharap mendapat pujian dari setiap warga, tapi malah sebaliknya, ia mendapat cemoohan dan sikap tidak mengenakkan dari semua warga. Karena perasaan malu yang tak tertahankan, Sa’ad Sado mengasingkan diri di tepi telukan sebuah sungai. Mungkin karena putus asa akhirnya Sa’ad Sado menceburkan diri ke telukan sungai yang airnya berputar-putar dan cukup dalam itu. Namun, Sa’ad Sado tidak mati tenggelam dalam telukan itu, dirinya malah berubah menjadi seekor binatang lucu sebesar kucing, mirip celeng, warna bulunya hitam berloreng kuning.
Warga kampung heboh karena Sa’ad Sado telah menghilang. Namun, setelah kepergian Sa’ad Sado seekor binatang aneh sering terlihat berkeliaran terutama bila malam hari. Pekerjaan binatang itu menggali tanah atau membuat lubang untuk mendapatkan cacing sebagai makanannya. Warga menyebutnya gubang. Karena keluarnya di malam hari, warga meyakini binatang itu adalah perubahan wujud Sa’ad Sado yang menanggung malu. Ia akan kentut bila merasa terusik oleh siapapun. Mungkin itu semacam sikap pembalasan atas perlakuan warganya yang dulu mengentutinya secara beramai-ramai.

Pengarang : MB. RAHIMSYAH. AR
Judul Buku : Cerita Rakyat, 2004. Bintang Indonesia: Jakarta

ASAL MULA BANJARMASIN
Dahulu ada sebuah kerajaan bernama Nagara Daha. Kerajaan itu didirikan Putri Kalungsu bersama Putranya, Raden Sari Kaburangan alias Sekar Sungsang yang bergelar Panji Agung Maharaja Sari Sari Kaburangan. Sekar Sungsang seorang penganut Agama Hindi Syiwa. Ia mendirikan candid an Lingga terbesar di Kalimantan Selatan. Candi yang didirikan itu bernama Candi Laras. Pengganti Sekar Sungsang adalah Maharaja Sukarama. Pada masa pemerintahannya, pergolakanj berlangsung terus-menerus. Walaupun Maharaja Sukarama mengamanatkan agar cucunya, Pangeran Samudera, kelak menggantikan tahta, namun Pangeran Mangkubumi lah yang naik takhta.
Kerajaan tidak hentinya mengalami kekacauan karena perebutan kekuasaan. Konon, siapa pun yang menduduki takhta akan merasa tidak aman dari rongrongan. Pangeran Mangkubumi akhirnya terbunuh dalam suatu perebutan kekuasaan.Sejak itu, Pangeran Tumenggung menjadi penguasa kerajaan.
Pewaris kerajaan yang sah, Pangeran Samudera, pasti tidak aman jika tetap tinggal dalam lingkungan kerajaan. Atas bantuan Patih Kerajaan Nagara Daha, Pangeran Samudera melarikan diri. Ia menyamar dan hidup di daerah sepi di sekitar Muara Sungai Barito. Dari Muara Bahan, Bandar utama Nagara Daha, mengikuti aliran sungai hingga ke Muara Sungai Barito, terdapat kampung-kampung yang berbanjar-banjar atau berderet-deret melintasi tepi-tepi sungai. Kampung-kampung itu adalah Balandean, Sarapat, Muhur, Tamban, Kuin, Balitung, dan Banjar.
Diantara kampung-kampung itu, Banjarlah yang paling bagus letaknya. Kampung Banjar dibentuk oleh lima aliran sungai yang muaranya bertemu di Sungai Kuin.
Karena letaknya yang bagus, kampung Banjar kemudian berkembang menjadi Bandar, kota perdagangan yang ramai dikunjungi kapal-kapal dagang dari berbagai negeri. Bandar itu dibawah kekuasaan seorang patih yang biasa disebut Patih Masih. Bandar itu juga dikenal dengan nama Bandar Masih.
Patih Masih mengetahui bahwa Pangeran Samudera, pemegang hak atas Nagara Daha yang sah, ada di wilayahnya. Kemudian, ia mengajak Patih Balit, Patih Muhur, Patih Balitung,dan Patih Kuin untuk berunding. Mereka bersepakat mencari Pangeran Samudera di tempat persemmbunyiannya untuk dinobatkan menjadi raja, memenuhi wasiat Maharaja Sukarama.
Dengan diangkatnyaPangeran Samudera menjadi raja dan Bandar Masih sebagai pusat kerajaan sekaligus Bandar perdagangan, semakin terdesakklah kedudukan Pangeran Tumenggung. Apalagi, para Patih tidak mengakuinya lagi sebagai raja yang sah. Mereka pun tidak rela menyerahkan upeti kepada Pangeran Tumenggung di Dagara Daha.
Pangeran Tumenggung tidak tinggal diam menghadapi keadaan itu. Tentara dan armada diturunkannya ke Sungai Barito sehingga terjadilah pertempuran besar-besaran. Peperangan berlanjut terus, belum ada kepastian pihak mana yang menang. Patih menyarankan kepada Pangeran Samudera agar minta bantuan ke Demak. Konon menurut Patih Masih, saat itu Demak menjadi penakluk kerajaan-kerajaan yang ada di Jawa dan menjadi kerajaan terkuat setelah Majapahit.
Pangeran Samudera pun mengirim Patih Balit ke Demak. Demak setuju memberikan bantuan, asalkan Pangeran Samudera setuju dengan syarat yang mereka ajukan, yaitu mau memeluk agama Islam. Pangeran Samudera bersedia menerima syarat itu.
Kemudian, sebuah armada besar pun pergi menyerang pusat Kerajaan Nagara Daha. Armada besar itu terdiri atas tentara Demak dan sekutunya dari seluruh Kalimantan, yang membantu Pangeran Samudera dan Patih pendukungnya. Kontak senjata pertama terjadi di Sangiang Gantung. Pangeran Tumenggung berhasil dipukul mundur dan bertahan di muara Sungai Amandit dan Alai. Korban berjatuhan di kedua belah pihak. Panji-panji Pangeran Samudera, Tatunggul Wulung Wanara Putih, semakin banyak berkibar di tempat-tempat taklukannya.
Hati Arya Terenggana, Patih Nagara Dipa, sedih melihat demikian banyak korban rakyat jelata dari kedua belah pihak.Ia mengusulkan kepada Pangeran Tumenggung suatu cara untuk mempercepat selesainya peperangan, yakni melalui perang tanding atau duel antara kedua raja yang bertikai. Cara itu diusulkan untuk menghindari semakin banyaknya korban di kedua belah pihak. Pihak yang kalah harus mengakui kedaulatan pihak yang menang. Usul Arya Terenggana ini diterima kedua belah pihak.
Pangeran Tumenggung dan Pangeran Samudera naik sebuah perahu yang disebut talangkasan.Kedua Pangeran itu memakai pakaian perang serta membawa parang, sumpitan, keris, dan perisai. Mereka saling berhadapan di sungai parit besar. Pangeran Tumenggung dengan nafsu angkaranya ingin membunuh Pangeran Samudera. Sebaliknya, Pangeran Samudera tidak tega berkelahi melawan pamannya. Pangeran Samudera mempersilahkan pamannya untuk membunuhnya. Ia rela mati di tangan orang tua yang dasarnya tetap diakui sebagai pamannya
Akhirnya, luluh juga hati Pangeran Tumenggung. Kesadarannya muncul. Ia mampu menatap Pangeran Samudera bukan sebagai musuh, tetapi sebagai keponakannya yang di dalam tubuhnya mengalir darahnya sendiri. Pangeran Tumenggung melemparkan senjatanya. Kemudian, Pangeran Samudera dipeluk. Mereka bertangis-tangisan. Dengan hati tulus, Pangeran Tumenggung menyerahkan kekuasaan kepada Pangeran Samudera. Artinya, Nagara Daha ada di tangan Pangeran Samudera. Akan tetapi, Pangeran Samudera bertekad menjadikan Bandar Masih atau Banjar Masih sebagai pusat pemerintahan sebab Bandar itu lebih dekat dengan muara Sungai Barito yang telah berkembang menjadi kota perdagangan. Tidak hanya itu, rakyat Nagara Daha pun dibawa ke Bandara Masih atau Banjar Masih. Pangeran Tumenggung diberi daerah di Batang alai dengan seribu orang penduduk sebagai rakyatnya. Nagara Daha menjadi daerah kosong.
Karena Pangeran Samudera adalah seorang raja yang beragama Islam, maka ia mengganti namanya dengan nama Sulatan Suriansyah. Hari kemenangan SultanSuriansyah 24 September 1526, maka tanggal tersebut dijadikan hari jadi kota Banjar Masih.
Ada cerita tersendiri kenapa Banjar Masih kemudian berganti nama menjadi Banjar Masin. Masin artinya asin. Karena setiap musim kemarau panjang air menjadi asin, lama-kelamaan nama Banjar Masih menjadi Banjar Masin.
Rakyat Banjar Masih sangat berduka ketika Sultan Suriansyah meninggal dunia. Makamnya hingga sekarang masih terawat dengan baik dan banyak di ziarahi orang. Setiap tanggal 24 September Wali Kota Madya BanjarMasin dan para pejabat berziarah ke makam itu untuk memperingati kemenangan Sultan Suriansyah serta berdo’a bagi arwah raja Banjar pertama yang beragama Islam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s